Part 1 : Hari Bahagia

Halloo!

Sebelumnya ini bukan post pertamaku 🙂

Pernah sebelumnya aku post ceritaku ini di blog (yang ini) namun karena suatu hal (kesibukan praktek di rumah sakit serta persiapan wisuda) jadilah hosting di blog ini lupa aku bayar dan yah, karena terlalu lama akhirnya di terminate yang mengakibatkan semua isi dari blogku ini hilang semua ahaha 

Karena mungkin ini adalah cerita yang cukup spesial buatku (bakal ada kelanjutannya) jadi aku posting ulang aja deh.

Aku akan memulai blog ini dengan sebuah cerita.

Cerita mengenai pengalaman pribadiku saat menghadiri acara kelulusan kuliah di bangku Diploma III sebagai mahasiwa yang akan dinyatakan lulus 😀

Honestly, ketika aku menulis tulisan ini aku belum dinyatakan lulus dan masih duduk dibangku semester 4. Dan kenapa aku bisa tahu detail suasananya? karena kebetulan ketika wisuda kakak tingkat aku hadir disana sebagai tim Paduan Suara yang kebetulan juga sebagai penerima beasiswa mahasiswa berprestasi tingkat I.

Dan mungkin Part 2 dari cerita ini bakal aku tulis ketika sudah lulus dari kuliah 😉

 

Well, selamat membaca

 


 

Part Satu: Hari Bahagia

 

Saat ini aku tengah duduk di sebuah kursi empuk berwarna biru tua, yang terletak di dalam sebuah ruangan yang sangat lebar dengan suhu ruangan yang cukup dingin.

Nampak dari belakang sini, aku bisa melihat ada tiga barisan kursi yang telah ditata dengan rapi, menghadap ke arah sebuah mimbar. Barisan ditengah berisi mahasiswa-mahasiwa yang akan segera diwisuda dengan memakai pakaian khas seorang yang hendak diwisuda serta dengan topi toga yang menghiasi kepala mereka dan di barisan kursi kanan dan kiri berisi para orang tua serta keluarga dari mahasiswa yang hendak diwisuda. Di mimbar tersebut terdapat Direktur serta Wakil Direktur tengah duduk menghadap mahasiswa-mahasiwa kesayangan mereka seolah mengisyaratkan bahwa waktu selama 3 tahun bersama mahasiswa mereka ini terasa amat cepat berlalu.

Disamping kiri dari tempat direktur dan wakil direktur berada, terdapat sebuah kereta kencana dengan corak dan motif batik yang menghiasi disekelilingnya. Sebuah kereta kencana yang biasanya digunakan oleh seorang Bupati ketika sedang memperingati karnaval Hari Jadi Kota Kabupaten. Yang mana menurut yang aku ketahui, orang-orang sering menyebut tempat ini adalah Pendapa Kabupaten.

Dan disamping kanan dari tempat para direktur dan wakil direktur berada, terdapat tim paduan suara.

Mereka tampak rapi-rapi sekali berpakaian seragam putih, sepatu putih, dengan mengenakan jas berwarna merah. Tak lupa sebuah apa ya namanya, hiasan seperti syal yang gitu berwarna hijau dan berumbai-rumbai pada tepiannnya dan warna biru pada tengahnya.

Dengan tulisan berwarna keemasan, benda tersebut diletakkan menyampir di pundak kanan mereka dan melingkar pada pinggang sebelah kiri mereka. Dan dikunci menggunakan sebuah peniti agar tidak lepas ikatannya..

Booommm!!

Hal ini sukses membuatku bernostalgia. Aku senyum-senyum sendiri mengingat hal tersebut.

 

 


 

Tiga tahun yang lalu aku berada disana, berada dalam barisan paduan suara tersebut.

Kala itu langit pagi terlihat cerah sekali dan berwarna biru yang khas warna langit ketika sedang cerah, sebuah warna yang paling aku sukai dari sekian banyak warna. Karena aku ngerasa bahwa warna biru adalah warna yang santai, tenang, dan penuh akan kebebasan.

Oleh karena hal tersebut aku seringkali melihat keatas langit pada pagi hari, hanya sekedar bersantai dan menikmati birunya langit yang cerah. Tak luput dari pandangan aku, langit pagi tersebut dihiasi dengan sedikit awan putih yang menggantung diangkasa sana. Juga sorot kekuningan dari matahari pagi menembus dinding kaca tak jauh dari tempat dimana aku duduk dalam barisan paduan suara menambah keindahan dipagi hari ini.

Aku yang duduk dibarisan paduan suara, melihat kearah orangtua serta keluarga dari mahasiswa yang akan diwisuda hari ini tengah berdatangan memasuki pendapa ini dari pintu masuk yang berada dibelakang barisan kursi mahasiswa yang akan diwisuda. Nampak amat jelas sekali dari sini aku ekspresi mereka terpancar sebuah aura kebahagian bahwa putra-putrinya akan segera diwisuda.

“Hari Bahagia.” Ucap seseorang disamping aku

“Hah?” Spontan aku menoleh ke arah sumber tersebut yang berada disamping kiri yang ternyata itu merupakan suara dari temen aku bernama Resha!

Tanpa mengalihkan perhatiannya pada mahasiswa dan orangtua serta keluarga mahasiswa, aku dapat melihat dia tengah tersenyum dengan teduhnya memandangi seluruh peserta acara wisuda

“..” Aku hanya membalasnya dengan anggukan dan kembali perhatian aku tertuju kearah depan.

Tak berapa lama aku mendengar suara yang sumbernya berada disebelah kanan aku.

Krsssk krrsssskk (Bukan bunyi suara radio rusak ya, tapi bunyi plastik pembungkus makanan yang tengah dibuka :D)

Rino!

Ya siapa lagi si raja makan diantara kami, dia dengan asyik serta lahapnya memakan snack yang sudah disediakan oleh panitia pagi ini.

“Makan dulu pakde hihihi, mumpung mewah ini” ucapnya sambil terus mengunyah makanan.

 

Pakde? Apakah aku pakdenya?

Tidak.

Bukan.

 

Panggilan itu sering ia lontarkan kepada aku yang mana usia aku sedikit lebih tua dari dia

“Duluan saja bray..” kata aku lirih sembari tersenyum kecil.

Aku kembali mengarahkan pandanganku lurus kedepan. Hari Bahagia huh? aku bertanya dalam hati. Benar apa kata resha barusan. Ini adalah hari bahagia, tidak hanya untuk wali mahasiswa, dosen serta mahasiswa yang akan diwisuda.

Tapi ini juga adalah hari bahagia untukku, karena aku bisa duduk disini melihat senyuman mereka semua yang merekah serta dikelilingi oleh orang-orang yang aku sayangi yang selalu bersama sejak awal kali aku masuk ke perguruan tinggi ini.

 

But wait!! ada yang kurang!

Ya dia belum datang.

 

Seseorang yang selalu saja terlihat payah dan selalu saja terlambat. Entah apa yang terjadi sehingga dia bisa terlambat datang kemari. Aku kemudian mengambil handphone dari saku celana, lalu membuka kotak pesan berharap ada notifikasi dari sana.

Namun nihil..

Beberapa menit yang lalu aku telah mengirimkan sebuah pesan singkat kepadanya untuk segera berangkat ke tempat wisuda, namun setelah menunggu dengan waktu yang cukup lama tak ada satupun notif balasan darinya.

Merasa kesal karena lama sekali tidak membalas, Rino meminjam handphoneku dan dengan segera jari jemari tangannya menari diatas layar handphone.

Ketika handphone sudah dikembalikan, aku ‘terkekeh’ karena kini pesan tersebut terlihat indah sekali dihiasi dengan umpatan-umpatan yang cukup menyakitkan hati khas dari seorang kawan agar dia segera berangkat.

Sebelum aku memasukkan kembali handphoneku kedalam saku celana, aku sempat melihat nama penerima pesan yang tertera pada layar hp aku.

 

 

 

 

“Rangga”

4 Comments

  1. vika

    19 Juli 2017 at 10:31 pm

    Wah tulisan yang sangat bagus.. mana nih kelanjutannya mas yusuf ? Penasaran bacanya hehehe

    1. yusufsaktian

      23 Juli 2017 at 6:31 am

      Terima kasih mbak hehe 🙏 belum dilanjut, kemungkinan nanti habis wisuda 😁

  2. Aulia Fasya

    20 Juli 2017 at 1:12 pm

    Waaah Sakti come back! Haiiii 😀

    1. yusufsaktian

      23 Juli 2017 at 6:31 am

      Hai fasya 🙋

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: